Mitos Keberadaan Bukit Angker “PANGASINAN” di SMPN 8 Rangkasbitung

GambarDi sebuah dataran tinggi menyerupai gunung, letaknya di tengah hamparan sawah yang kini sebagaian tanahnya telah dibangun gedung sekolah SMPN.8 Rangkasbitung, dahulu tempat itu menyimpan banyak cerita magis.
Keberadaan tempat itu bagi masyarakat sekitar dianggap sebagai wilayah bukit angker. Tidak ada orang yang berani melewatinya ketika matahari mulai terbenam. Gunung itu disebut masyarakat sebagai ”Pangasinan” atau pengasingan yaitu tempat berkumpulnya makhluk-makhluk halus. Pangasinan itu pun, konon menyimpan harta karun.
Pada suatu waktu di tempat yang berbeda. Terlihat beberapa orang yang sedang bekerja di salah satu tempat penambangan emas yang berada di daerah Pongkor, Bogor. Di antaranya adalah Soleh dan Basir. Mereka asyik berbincang-bincang.
Dalam perbincangannya, soleh ingin kembali ke kampung halamannya. Ia sudah bosan bekerja di sana. Penghasilan yang ia terima tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya di kampung halaman. Ia juga sangat merindukan orangtua, istri, dan anaknya. Soleh mengajak Basir ke kampung halamannya untuk mencari keberuntungan yang lebih baik dari yang saat ini dijalaninya.
Dengan menggunakan jasa kereta api, mereka pulang menuju Rangkasbitung. Di perjalanan, soleh melihat pegunungan yang indah. Seketika itu juga ia teringat akan cerita tentang ”Pangasinan” tempat harta karun tersimpan yang dapat menentukan dan mengubah jalan hidup seseorang. Terbersit olehnya untuk mendatangi tempat itu dengan mengajak Basir.
Tibalah mereka di dese Kolelet, Rangkasbitung, kampung halaman soleh. Soleh segera menemui keluarganya, terutama anak dan istrinya untuk melepas kerinduan yang sudah lama dinantikannya. Basir pun diperkenalkannya kepada keluarga Soleh. Selang beberapa hari, soleh menceritakan niatnya untuk mengajak basir mencari harta karun yang berada di Pangasinan. Tempat itu tidak jauh dari tempat tinggalnya. Basir pun tertarik. Tanpa berfikir panjang lagi, mereka berangkat menuju Pangasinan.
Setengah perjalanan menuju Pangasinan, tampak seekor kelelawar yang tiba-tiba jatuh menukik tepat ke Pangasinan.
”Soleh, coba kau lihat kelelawar itu. Mengapa bisa jatuh?”
”Ah. Mungkin kelelawar itu ditembak atau mungkin sakit jantung.” Jawab Soleh tertawa kecil.
”Jikalau ditembak, mengapa tidak terdengar suara tembakan?” tanya Basir penasaran.
Dengan langkah cepat, mereka pun segera menghampiri tempat kelelawar itu jatuh. Ternyata tempat jatuhnya kelelawar itu berlubang. Lubangnya seperti sumur yang kedalamannya kira-kira 3 meter. Soleh ingat, lubang itulah yang ia cari. Lubang tempat tersimpannya harta karun .
”Sir, ayo kita turun dan dapatkan harta karun itu!” Ajak Soleh.
”Aku tidak mau, Kau saja! Aku menunggu di sini.” Kata Basir yang mulai ketakutan.
Karena hari semakin sore, soleh bergegas turun ke lubang itu. Hanya sedikit cahaya saja yang meneranginya. Soleh agak kesulitan menemukan benda yang ada di dalamnya. Beberapa lama kemudian, tangan soleh merasakan ada benda. Diangkatlah benda itu dan dilihatnya, ternyata itu adalah potongan-potongan emas yang hancur. Dengan gembira, ia segera memasukkan emas itu ke dalam saku celana. Ia berteriak memberitahukannya kepada basir sambil naik kembali dari lubang dan menghampiri basir.
“Sir, ini emasnya di saku celanaku, kita kaya!” Ungkap Soleh.
“ayo kita segera tinggalkan tempat ini sebelum malam tiba.” Kata Basir dengan penuh waspada.
Tidak disangka, ketika akan meninggalkan lubang tersebut, basir melihat dari arah lubang ,seekor ular raksasa keluar dan menghampiri mereka. Saleh terperanjat kaget lalu mereka segera meninggalkan tempat itu dengan jantung berdetak kencang. Ular raksasa itu ternyata terus bergerak mengikuti mereka sambil meliuk-liukkan tubuhnya seakan memperlihatkan kemarahannya.
Di persimpangan jalan, basir berbelok arah dengan maksud agar ular itu mengikutinya dan soleh terselamatkan. Namun tetap saja ular itu mengikuti soleh. Basir merasa kasihan tetapi apa yang dapat ia lakukan. Ia hanya bisa berharap dan berdoa untuk keselamatan soleh. Akhirnya, basir segera mencari jalan untuk kembali ke rumah soleh dan memberitahukan kabar tersebut kepada keluarga soleh.
Sementara di Pangasinan, soleh masih saja dikejar ular itu. Tiba-tiba ia tersandung akar pohon, terjatuh dan pingsan seketika. Ular itu langsung menelan Soleh tetepi ia dimuntahkan kembali ke sawah. Tidak lama kemudian, ular itu bergerak kembali ke lubang, tempat emas diketemukan.
Pada esok harinya, masih di pangasinan. Soleh yang tadi malam dikejar-kejar dan dimuntahkan ular raksasa itu masih dalam keadaan tengkurap dan pingsan di tengah sawah. Seorang kakek tua menemukannya saat sedang memotong rumput di sawah. Kakek tua itu mengira orang yang diketemukannya itu sudah meninggal. Dengan tiba-tiba soleh terbangun dan tersadar. Kakek tua itu kaget dan segera bertanya, ” Siapa kamu dan di mana rumahmu, Nak? Biar kakek antarkan kamu pulang.” Lalu soleh memberitahukan tempat tinggalnya kepada kakek itu dengan suara pelan. Kakek tua itu menuntun dan mengantarkan soleh ke rumahnya.
Tiba di rumah, keluarga soleh dan juga basir yang masih terlihat cemas seketika kaget dan bahagia setelah melihat soleh kembali dan selamat. Ia menceritakan tentang kejadian yang sudah menimpanya semalam. Soleh teringat, di saku celananya masih tersimpan potongan emas. Ia merogohkan tangannya ke saku celananya dan dilihat masih adakah potongan emas itu. Ternyata benar potongan emas itu masih ada dan utuh. Keluarga dan tetangga dekat soleh kaget dan heran mendengar cerita dan melihat emas yang dibawanya itu.
Beberapa waktu setelah peristiwa menimpa soleh. Ada saja dari beberapa masyarakat yang merasa penasaran dan ingin membuktikan kembali tentang keberadaan lubang di Pangasinan itu. Tetapi setelah mereka temukan tempat itu tidak diketemukan lagi lubang besar menyerupai sumur tersebut. Yang ada hanyalah lubang kecil yang letaknya persis di tempat dahulu soleh dan basir menemukan emas dan ular raksasa. Sampai saat ini, lubang kecil itu pun masih ada dan masih menjadi misteri bagi masyarakat setempat.
Kejadian lain, di Pangasinan itu juga, kini yang sebagian tanahnya sudah dijadikan bangunan sekolah baru. Pada awal penggunaan gedung sekolah itu banyak hal yang terjadi. Kerasukan roh-roh halus menimpa warga sekolah. Kejadian itu terus berlangsung. Kerasukan beruntun terjadi pada hampir setiap siswa. Sekolah tidak pernah tahu apa maksud semua ini. Tetapi menurut cerita, ini terjadi karena pangasinan yang tadinya tidak digamah orang, setelah berdirinya sekolah di tempat itu justru membuat para roh halus yang mendiaminya merasa terusik dan marah. Mereka tidak senang dengan kehadiran manusia yang mengganggu tempat peristirahatannya.
Orang-orang pintar yang dianggap mampu mengusir roh-roh halus tidak bisa mengatasinya. Dari berbagai tempat di wilayah Rangkasbitung, mereka di datangkan pun tak ada yang mampu mengusirnya. Korban-korban kerasukan pun semakin menjadi. Para roh halus seolah-olah menguasai tempat itu. Keresahan dan ketakutan terjadi pada setiap guru dan siswa, juga masyarakat di sana.
Setelah peristiwa ini berlangsung beberapa minggu, Kerasukan terjadi lagi kepada salah satu siswa yang setiap saat menjadi korban kerasukan itu. Ketika ia mulai dimasuki roh halus, anak itu sulit untuk dikendalikan. Matanya memerah begitu tajam memperhatikan sekeliling tempat itu, dan berkata: ”Tempat aing jeung kaluarga di rusak ku maraneh, kami moal indit ti dieu lamun teu dibere congcot!” Diiringi dengan tertawa menyeramkan.
Setelah mendengar keinginan makhluk yang berada di tubuh anak itu, pihak sekolah meminta kembali masyarakat dan tokoh agama setempat untuk mencari jalan keluar menghadapi persoalan ini. Jika permintaan itu diabaikan, takutnya akan ada yang lebih parah lagi terjadi. Akhirnya tokoh masyarakat menyarankan untuk diadakan ritual Ruwatan di tempat tersebut. Dalam ritual itu disediakan juga congcot atau nasi tumpeng permintaan roh itu sebagai syarat agar mereka meninggalkan tempat itu.. Segala doa dipanjatkan kepada Allah SWT agar semua diberikan perlindungan dan keselamatan dari segala hal yang terjadi di tempat itu.
Setelah diadakannya ritual, seketika itu juga siswa korban kesurupan tersadarkan. Di hari-hari berikutnya tidak terdengar kembali peristiwa-peristiwa itu.. Suasana ”Pangasinan” berubah tidak lagi menjadi angker. Rumah-rumah penduduk pun bermunculan berdiri di kanan- kiri gedung sekolah yang tadinya menyendiri.
Cerita ”Pangasinan” kini tetap abadi dalam kehidupan masyarakat setempat.

TAMAT

Penulis : Deasy Aliana, S.Pd.
Guru SMPN 8 Rangkasbitung

This entry was posted in Populer. Bookmark the permalink.

One Response to Mitos Keberadaan Bukit Angker “PANGASINAN” di SMPN 8 Rangkasbitung

  1. Aminah hum says:

    Pak kpan anak spadan bisa menaiki bukit itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s